Percik Keluarga

WRITE. CONNECT. SHARE

Chinatown, Masuk-Keluar Pasar

Keseruan gabung walking tour bareng Jakarta Good Guide masih berlanjut. Puas mengelilingi Cikini, sasaran berikutnya adalah Chinatown di kawasan Glodok, Jakarta. Seperti biasa, perjalanan dimulai pukul 09.00 dan kami masuk ke grup 3 yang dikomandoi Kak Candha. Sebelum memutuskan ikut walking tour area Chinatown, kami sudah memastikan bahwa rute yang ditempuh memungkinkan untuk Luna. Dari segi jarak, perjalanan sekitar 2 kilometer, bahkan lebih pendek dibandingkan Cikini. Hanya saja, yang menjadi perhatian kali ini adalah ekstra pengawasan terhadap Luna. Area Chinatown lebih ramai dan dipastikan masuk-keluar pasar berkali-kali. Okey, jadi kemana aja sih rute Chinatown Walking Tour versi Jakarta Good Guide? Yuk, simak.

# CaCandra Nayandra Naya

Mungkin sebagian orang tak akan menyadari bahwa dibalik gedung-gedung tinggi – tepatnya di area Hotel Novotel Gajah Mada, terdapat sebuah bangunan cagar budaya. Bangunan seluas 2.250 meter ini merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An, mayor Tionghoa terakhir di Batavia. Arsitektur yang paling menarik adalah bentuk atap melengkung bergaya Tionghoa, dimana kedua ujungnya terbelah dua – biasa disebut Yanwei (ekor walet). Struktur atap tersebut sekaligus menandakan status sosial penghuninya. Selain itu, beberapa ruang dan ornamen dalam gedung juga menarik untuk ditelisik. Luna sendiri langsung terpikat pada kolam ikan koi di bagian belakang bangunan.

 

 

# Petak Sembilan

Wuih walking tour kian menarik nih, seru banget melihat Luna menikmati perjalanan. Apalagi ketika memasuki area Petak Sembilan. Masuk pasar tradisional yang didominasi warna-warni merah dan ornamen jelang Imlek. Menariknya, di Petak Sembilan masih berdiri toko yang menyediakan perlengkapan pernikahan dan souvenir yakni Toko Ceria-Unik, letaknya di sebelah kiri dari pintu masuk. Masih di sisi yang sama, ada Toko Suka Ria yang menyediakan perlengkapan sembahyang. Terus ya, jangan kaget kalau di sepanjang jalan banyak penjual teripang, kodok, dan jeroan babi. Intinya, banyak dagangan unik yang bisa dilihat.

glodok-citypetak-sembilan

# Dharma Bhaktidharma-bhakti

Meski telah mengalami kebakaran tahun 2015, bangunan dan beberapa bagian kayu Vihara Dharma Bakti atau Kim Tek Ie masih terlihat kokoh. Tempat ibadah ini ditujukan bagi masyarakat etnis Tionghoa lintas agama – baik agama Buddha, Kong Hu Chu, dan Tao. Keluar dari Kelenteng, di sudut jalan Jalan Kemenangan 7 terdapat tempat ibadah yang khusus digunakan bagi umat yang hendak berpergian jauh. Sepanjang jalan di bagian belakang Dharma Bhakti terdapat pemukiman masyarakat Tiongkok. Bila dilihat, sebagian bangunan berfungsi sebagai toko dan rumah sekaligus. Tak tanggung-tanggung, bangunan bisa bertingkat 4 lengkap dengan pagar dan teralis di setiap lantainya.

# Gereja Santa Maria de Fatima

Arsitektur bangunan gereja Katolik ini bernuansa Tionghoa. Tak jauh dari gereja, terdapat sekolah Ricci,

gereja-santa-maria-de-fatima# Dharma Jaya “Tao Se Bio”

Setelah mampir sebentar di Toko Kue Tiong Chu Phia Merek Viki, seberang jalan ada Dharma Jaya “Tao Se Bio”. Letak klenteng ini tak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Meski dari luar terlihat kecil, nyatanya ketika masuk halaman yang dominasi merah ini terlihat luas. Kira-kira, ada sekitar 20-an altar di klenteng ini. Klenteng ini pun menjadi saksi sejarah ketika terjadi kerusuhan dan pembakaran, dimana saat itu yang tersisa hanya hiolo (tempat menancapkan hio selesai sembahyang) dan patung Dewa Cheng Goan Cheng Kun.

tao-se-bio

# Es Jeruk Murni

Aih, segar sekali menikmati es jeruk murni yang direkomendasikan Kak Candha. Segelas es jeruk peras murni ini dibandrol Rp8.000,-. Jangan lupa mampir ya, dijamin puas deh. Apalagi minumnya disela-sela walking tour. Panas-panas kena es jeruk, mantap!

# Kaligrafi Cina

Okey, di sebuah gang sempit menuju Jalan Kali Mati terselip pembuat jasa kaligrafi cina. Nama pemiliknya adalah Salim yang berusia 76 tahun. Wow, di usia senja tapi masih mawas menulis huruf-huruf kecil nan njlimet. Sayangnya, seni kaligrafi cina yang dirintisnya tak berlanjut ke generasi selanjutnya. Alasannya? You know-lah.

es-jeruk-murni# Aneka Makanan Gang Kali Mati

Nah, buat yang muslim mesti hati-hati nih dalam memilih makanan. Beberapa ada yang non halal tapi banyak juga kok yang halal. Beberapa yang halal bisa diicip adalah makanan vegetarian, meskipun ada masakan babi tapi ini babi halal kok. Iya, bahan daging babi sudah diganti dengan berbagai bahan sayur, jadi nama dan penampakkannya saja. Ada juga bakpia yang dibandrol Rp5.000,- dan terkenal enak. Sisa lainnya, bisa dilihat dan tanya-tanya kehalalannya ya.

# Jalan Pancoran

Keluar pasar makanan di Gang Kali Mati, langsung ketemu jalan Pancoran. Eits, ini bukan Jalan Pancoran di wilayah Selatan ya. Jadi, Jalan Pancoran ini menjadi cerita unik asal-muasal kata Glodok. Dulu, kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda, yakni Golodog yang berarti pintu masuk rumah. Telisik, nama Glodok juga berasal dari suara air pancuran dari sebuah gedung kecil. Nah, bunyi air pancuran tersebut terdengar “Grojok…grojok…grojok”. Nah, sampailah pada pengucapan Glodok.

# Gloria

Ini mah surga makanan ya buat masyarakat maupun wisatawan yang non halal. Aneka makanan ringan maupun berat tersaji di sisi jalan. Paling menyorot perhatian adalah Toko Tak Kie yang menjual es kopi, toko ini ramai pengunjung. Makanan yang bisa dicoba adalah Mie Kangkung dan Gado-gado Direksi. Meski beberapa tempat makan kurang nyaman, tapi soal rasa bolehlah.

image

Jadi, walking tour kemana lagi nih? Tunggu ya postingan berikutnya!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: