Percik Keluarga

WRITE. CONNECT. SHARE

Cikini Walking Tour

Piknik kali ini memang mendadak banget, selesai terima raport Luna, saya langsung cek website Jakarta Good Guide. Akhirnya, daftar ikut serta walking tour rute Cikini. Ya, memang sudah lama banget saya berencana susuri area Cikini tapi belum juga teralisasi. Jadi, cocok banget kan kalau ikutan gabung walking tour apalagi ditemani guide yang mahir banget jelasin setiap spot.

cikini-walking-tour

Walking Tour? READY!

Gedung Joang ’45

Awal mulanya, gedung yang dibangun sekitar tahun 1920-an digunakan sebagai hotel yang dikelola oleh keluarga L.C Schomper, seorang berkebangsaan Belanda yang sudah lama tinggal di Batavia. Hotel ini diberi nama Schomper dan terbilang terkenal di kawasan pinggiran Selatan Batavia saat itu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia (1942-1945) dan menguasai Batavia, hotel ini diambil alih oleh para pemuda Indonesia dan beralih fungsi sebagai kantor untuk program pendidikan politik bagi pemuda Indonesia.

gedung-joang-45

Kini, Gedung Joang ’45 menjadi salah satu museum yang ada di Jakarta, dibawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Jejak perjuangan kemerdekaan RI bisa dilihat dari benda koleksi yang ada, diantaranya mobil dinas resmi Presiden dan Wakil Presiden RI Pertama, yakni mobil REP1 dan REP2, serta Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini.

Kita meninggalkan museum ini tetapi sebenarnya tidak, karena sejarah itu berlangsung terus sejalan dengan penghidupan dan kehidupan manusia, khususnya bagi kita generasi pejuang ’45, bangsa Indonesia dan bangsa bangsa di dunia pada umumnya – Gedung Joang ’45 (1945-1949)

kantor-pos

Kantor Pos Cikini

Dahulu, Kantor Pos di Cikini ini bernama Tjikini Post Kantoor. Masih terlihat bangunan ini berdiri kokoh dan bernuansa Eropa. Jadi mengapa Kantor Pos identik dengan warna oranye? Ya, dahulu ini sebagai simbol dan identitas bahwa kantor pos lekat dengan Belanda.

Lukisan Mural Trotoar

Tak jauh dari Kantor Pos, di sisi kiri terdapat deretan kedai kopi dan cafe. Menariknya, bagian trotoar dihias dengan karya artistik lukisan mural warna-warni. Meski beberapa sudah pudar, tapi sebagian lukisan masih bisa dilihat. Lukisan mural sepanjang 120 meter ini merupakan besutan mahasiswa IKJ dan Asosiasi masyarakat Korea di Indonesia.

 

Eks Toko Roti Tan Ek Tjoan

Sambil mendengarkan sejarah Tan Ek Tjoan yang legendaris. Luna sibuk menikmati roti kesukaannya, rasa cokelat poles.

img_5172

kediaman-hasyim-ningKediaman Hasyim Ning

Sebagian mungkin tidak menyadari rumah berpagar putih ini dan siapa pemiliknya. Ya, ini adalah kediaman Hasyim Ning dengan alamat Jl Cikini Raya No. 24, Menteng, Jakarta Pusat. Beliau merupakan seorang pengusaha kaya raya asal Nipah, Padang, Sumatera Barat. Lahir tahun 1916 dan meninggal pada Desember 1995 (79 tahun). Hasyim Ning sendiri sosok yang bercita-cita menjadi tentara meskipun tak mendapat restu dari orang tua. Dia pensiun dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Hasyim Ning juag dikenal sebagai pengusaha perakitan mobil dan bisnis di bidang lainnya.

Taman Ismail Marzuki (TIM)

Di TIM terdapat beberapa area yang menarik. Dahulu dikenal dengan Taman Raden Saleh yang merupakan Kebun Binatang Jakarta sebelum dipindahkan ke Ragunan dengan luas tanah 9 hektar, kini menjadi pusat  kesenian dan kebudayaan. Fasilitas yang ada di TIM antara lain Institut Kesenian Jakarta, salah satu institusi yang melahirkan seniman-seniman terkenal Indonesia, teater Jakarta TIM, Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin, bioskop, Planetarium Jakarta, dan Perpustakaan DKI Jakarta. TIM diresmikan pada masa Gubernur Ali Sadikin pada 10 November 1968.

taman-ismail-marzuki

Laba-Laba

Keluar dari komplek TIM, perjalanan dilanjutkan ke Laba-laba. Ini merupakan toko reparasi yang berdiri sejak 1898. Dulu, toko penyedia jasa perbaikan barang dari kulit ini bernama De Spin. Nah, ketika ada kebijakan untuk mengganti nama ke bahasa indonesia, maka tercetuslah Laba-laba dan sampai sekarang masih ramai pengunjung.

smpn-1-jakartaSMP Negeri 1 Jakarta

Pada masa zaman Belanda, sekolah ini terkenal dengan sebutan Eerste School D yang berdiri sejak 1947. Bangunannya sendiri sudah ada sejak 1907 karena memang merupakan sekolah milik pemerintah Hindia Belanda untuk orang pribumi pertama yang ada di Batavia.

Perguruan Cikini “Percik”

Nah, cerita tentang Mobil Peristiwa Pemboman di Cikini yang ada di Gedung Joang ’45 berkaitan dengan Perguruan Cikini yang berdiri 1 Agustus 1942, dengan nama Sekolah Rakyat Partikelir Mayumi. Awalnya, hanya sebuah tempat kursus bahasa Indonesia yang diprakarsai Pandu Suradhiningrat, dan kini berkembang menjadi beberapa unit. Pada 30 November 1957, pernah terjadi ledakan granat dengan target Presiden Soekarno yang sedang berkunjung. Percik juga merupakan tempat sekolah putra-putri Presiden Soekarno, Guntur; Guruh; dan Megawati.

pgi-cikini

 

PGI Cikini

Berlokasi di Jl Raden Saleh No.40 Cikini, rumah sakit swasta ini berada di tempat sejarah yang sebelumnya merupakan pelukis terkenal Raden Saleh. Jadi, terbayang ya luas tanah yang dimiliki Raden Saleh, mulai dari PGI Cikini sampai TIM. Sejarahnya, rumah sakit ini bertujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat yang didirikan pada 12 Januari 1898 dengan nama RS Ratu Emma yang didirikan oleh misionaris Belanda, Adriana Josina de Graaf-Kooman. Rumah Sakit Ratu Emma berubah nama menjadi Rumah Sakit Tjikini pada 1 Agustus 1913.

 

Kediaman Raden Saleh

Rumah  Raden Saleh termasuk salah satu bangunan tua bersejarah di Jakarta. Saat ini, rumah tersebut menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah besar kediaman Raden Saleh ini dibangun pada 1852 dengan mengambil unsur-unsur dari berbagai gaya Eropa. Pada waktu itu rumah dikelilingi kebun luas yang mencakup Taman Ismail Marzuki (Sampai 1964 merupakan Kebun Binatang), SMP Negeri I Jakarta serta seluruh kompleks Rumah Sakit Cikini. Sejak 1897, rumah ini menjadi bagian Rumah Sakit Cikini di Jalan Raden Saleh.

kediaman-raden-saleh

Eks Restoran Oasis

Konon, restoran ini kerap disinggahi oleh para bangsawan dan negarawan. Paling menarik adalah  Rijsttafel, yakni konsep menyajikan hidangan yang dibawakan oleh 12 wanita dengan menggunakan pakaian kebaya. Satu per satu hidangan akan ditawarkan kepada setiap tamu dan mempersilakan untuk mengambil atau menolak. Dulu, bangunan tersebut merupakan rumah pribadi F Brandenburg Van Oltsende, yang dibangun tahun 1928 dan berfungsi sebagai resto pada 1968.

kediaman-ahmad-subarjoKediaman Ahmad Subarjo

Ahmad Subarjo merupakan salah satu tokoh proklamasi Indonesia bersama Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta. Beliau juga Menteri Luar Negeri pertama pada tahun 1945 dan 1951-1952. Pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Swiss pada 1957-1961. Saat menjabat sebagai Menlu, dia menjadikan kediaman pribadinya sebagai kantor Kementerian Luar Negeri pada 19 Agustus 1945. Ya, kediamannya menjadi saksi sejarah awal mula diplomasi Indonesia.

 

pasar-barang-antik-jl-surabayaPasar Barang Antik, Jalan Surabaya

Letaknya tak jauh dari Stasiun Cikini. Kios yang berjajar rapi ini menjual berbagai barang antik dan koper. Rasa takjub terasa ketika mendapati gramaphone, lampu kristal, kompas, telepon putar, gopeng, gosokan ayam, mesin penghancur es balok, dan barang unik lainnya. Jangan heran jika berpapasan dengan turis asing, ya lokasi ini menjadi tempat favorit wisatawan mancanegara.

 

Foto grup di depan Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki.

Nah, itulah rute Cikini yang dilalui. Rasa letih yang semula terbayang sebelum perjalanan sepertinya sirna, tergantikan dengan kisah sejarah dan lokasi-lokasi yang bikin takjub. Perjalanan yang dimulai pukul 09.00 WIB selesai dalam hitungan kurang lebih 2,5 jam. Sebelum pukul 12.00 WIB, rombongan berpisah sebagai tanda walking tour usai. Oh ya, selama walking tour sang guide, yakni Farid begitu menyenangkan dan cerita sejarah dikemas ringan. Jadi, kalau diperkirakan, jarak walking tour yang ditempuh sekitar 3 kilometer. Lelah? Oh, tidak.

Nah, buat yang tertarik ikut walking tour bersama Jakarta Good Guide, bisa mampir di website atau cek IG mereka. Selain edutainment, walking tour ini menerapkan konsep it’s a pay as you wish tour, jadi membayar sesuai kepuasan setelah akhir tur langsung kepada guide. Hmmm… kami pun langsung dong register untuk walking tour berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 25, 2016 by in Luna Ayudya Salim, Piknik and tagged , , .
%d bloggers like this: